Kamis, 07 Juli 2016

Jika - Ternyata Seperti Ini

SATU


            Pagi itu awan terasa sangat indah, berjalan sendirian di tengah-tengah taman kota bukanlah hal yang aneh bagi Elice, sepi yang ada terasa begitu nyaman, bagaimana tidak mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan, hanya dengan buku diary, pulpen, dan hp yang selalu setia menemani kemanapun Elice pergi, disela waktu kosong yang lakukan hanyalah menulis dan menulis, bukan hal yang pasti yang ditulis tapi hanya mengunggapkan segala apa yang dirasa, mengapa Elice lebih suka menulis? Itu karena bisa jujur sejujurnya tanpa perlu ragu dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain, karna yang terlihat belum tentu apa yang terjadi sebenarnya.
            Tulisan? Mungkin hanya menjadi karangan dan khayalan bahkan keluhan yang tak ingin oranglain tau, walaupun terkadang tak menghasilkan solusi apa-apa namun suka aja dengan semua kejujuran dari tulisan itu. Yang diri ini pahami  barulah selalu bersyukur dengan apa yang yang  miliki, yaa setidaknya hanya itu yang harus selalu di lakukan agar selalu tenang
            “hmm aku bingung mesti apa, tapi cuaca hari ini cerah sekali semoga hari ini hatiku seperti cerahmya hari ini” gumam Elice dalam hati. Ketika semuanya terasa begitu indah, entah kenapa selalu saja ada yang mengganggu pikirannya, perasaan yang tidak enak sering sekali menghantui setiap langkahnya.
            Semua tak terasa kelabu ditengah kesendirian diantara keramaian orang yang asik dengan dunianya masing-masing di taman, seketika Elice terpaku dengan alunan musik yang dimainkan oleh sekelompok anak-anak yang belajar bermain biola disana. Suaranya begitu menyentuh hati hingga tak kuasa untuk pergi dari taman dengan perasaan yang menentramkan hati. Anak-anak itu sesekali mengajakku untuk bermain musik, tapi itulah kelemahan ku yang buta dengan musik.
Sendirian bukanlah hal yang aneh lagi bagi Elice, terbiasa dirumah atau berjalan sendirian tak menjadi suatu masalah yang baru. Bukannya  tak mau bersosialisasi dengan yang lain tapi ketika sendirian aku mulai mngetahui dan memahami apa yang disuka, walau jika bertemu dengan teman-teman tak pernah dianggap pendiam. Ternyata ada banyak hal yang membuat menjadi mencintai diri-sendiri ohyaa  itu memang menjadi hal yang penting.

-o-

“Ternyata seperti ini”

Langkah kaki mengapa engkau suka sekali tak berhenti? Tau kah terkadang diri ini sudah mulai lelah mengikuti setiap langkah yang tak ingin sesekali diam? Semua pertanyaan itu tak mungkin kau jawab kan? Lucu sekali semua usaha kerasmu itu. 
Ada satu ketika diri ini terhenti sejenak, ternyata ada satu hal yang membuat langkah ini sulit untuk bergerak, yaaa apa yang harus dilakukan? Haruskah tetap berdiam diri? Padahal ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar terhenti.
Hari ini sangatlah indah, perihal mengapa terhenti? Ternyata banyak waktu yang terbuang hanya untuk sekedar melakukan semua rutinitas yang tak henti. Mengapa semua terasa harus selalu memenuhi? Ternyata banyak hal indah yang terlewati.
Oke langkah kaki aku ikuti semua maumu.
.
.
.
Matahari itu selalu memanggilku
Sinarnya tak pernah memacar haru
Seakan tak akan menjadi kelabu
Ternyata banyak sekali hal yang baru
Angin pun  ikut berseru
Ayo tetap pergi bersamaku.

Pilihan itu tak bisa ditepis lagi
Banyak yang tak bisa menghampiri
Bolehkah aku yang mendatangi?
Walau hanya sekedar ingin diri ini
Tolong ajak aku untuk berlari
Dan ku harap tak ada niatan untuk pergi

Siapkah untuk berlari?
Perlulah semua persiapan diri
Bisa tolong bantu aku matahari
Mempersiapkan hal yang tak pasti
Bisakah tolong  aku angin?
Ajari aku berani untuk pergi

- Dha 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar