PROLOG
pagi itu mengapa terasa seperti ini?
pagi itu mengapa terasa seperti ini?
kabut itu mulai menutupi indahnya hari
haruskah ada saja yang terhalangi?
padahal diri ini tak mau tak jadi pergi
bolehkah ada sepatah malu?
apakah sepatah kata dapat meninggalkan pilu?
andai saja bisa menghindari semua itu
takan lagi ku jejak kan kaki seperti itu
hanya seperti rasa coklat yang dulu
dulu? yaa hanya rasa itu
manisnya meresap hingga kalbu
bolehkah aku coba lagi coklat itu?
lucu sekali bayangannya kini
harus terhapus walau bayangannya sepi
ku tau sulit yang terasa pasti
akan ku latih selalu diri ini
haruskah ada saja yang terhalangi?
padahal diri ini tak mau tak jadi pergi
bolehkah ada sepatah malu?
apakah sepatah kata dapat meninggalkan pilu?
andai saja bisa menghindari semua itu
takan lagi ku jejak kan kaki seperti itu
hanya seperti rasa coklat yang dulu
dulu? yaa hanya rasa itu
manisnya meresap hingga kalbu
bolehkah aku coba lagi coklat itu?
lucu sekali bayangannya kini
harus terhapus walau bayangannya sepi
ku tau sulit yang terasa pasti
akan ku latih selalu diri ini
Terkadang lucu sekali dengan yang terlihat didunia ini, bahkan ada banyak hal yang perlu disyukuri entah karena kebahagian atau bahkan karena luka. Yang ku ketahui untuk saat ini, semua itu akan mengajari banyak hal, ya semoga saja menjadi lebih baik lagi. Apakah dengan memikirkannya saja menjadi lebih baik? Yaa terasa bodoh jika hanya dipikirkan, tapi mengapa tetap saja memikirkan hal itu? Hmm… apa sih yang dipikirkan? Semua ini selalu mengganggu.
Air
terkadang mengajarkan ku akan pentingnya mengalir, tetap saja mengalir walau
tau banyak sekali batu, karang maupun ranting yang membuat aliran tidak
berjalan dengan mulus, yaa let it flow aja. Tapi mengapa selalu ada saja
ketakutan itu? Padahal sudah tau batu tak akan berpindah dengan sendirinya dan
batu itu keras. Sama seperti kerasnya pendirianku akan sesuatu yang sudah aku
putuskan.
Mengapa
hujan itu begitu indah? Tapi perlu diketahui begitu sulit menerima bahwa hujan
seperti tangisan yang tak bisa dibendung lagi, berawal dari langit yang cerah
seperti kebahagiaan yang tak ada habisnya, seketika lenyap ketika angin datang
membawa awan yang yang besar yang merubahnya menjadi mendung, seperti langit
yang menahan dirinya untuk menangis, dan ketika sudah tak dapat tertolong lagi
jadilah hujan seperti langit yang menangis dengan pedih.
Taukah?
Terasa indah jika dilihat dengan bayak cara tak dari satu sudut pandang saja,
tapi terasa begitu rumit, mengapa pemikiran ku selalu jauh dan rumit sekali? Aku
lelah dengan terlalu luasnya hal itu. Terkadang lebih baik tidak tau, bahkan
pura-pura tidak tau. Setidaknya aku bisa beristirahat dari semua pemikiran yang
belebihan, walaupun hanya sementara saja. Satu hal banyakin bersyukur yaa,
banyakin berterimakasih.
Sekian
waktu yang telah terlewati banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik, wahai
waktu bolehkah aku mengintip sedikit saja masa depan ku? Dan boleh kah aku
menghapus semua kepedihan yang ada dimasa lalu, dan tak diingat lagi? Hai waktu
seandainya engkau tau aku rindu, rindu dengan semua hal yang tak bisa digenggam
lagi, tersadar… menggenggam pasir itu cepat atau lambat akan habis, semakin
menggenggam erat semakin berkurang pasir dan jika tidak erat, maka tak bisa
sama sekali menggenggam pasir itu. Dan harus tau semuanya itu memiliki batas
kewajaran agar tak hilang. Ketika sudah hilang, tak tau lagi bagaimana bisa
memungutnya kembali.
- Dha 2016
- Dha 2016

